"HRF has established a steady alternative income sources for the indigenous and local people." - Harapan RainForest

Ribuan Meter Kubik Kayu Sitaan Raib

Tanggal Posting: 2012-09-01 18:09:44

JAMBI - Lebih dari 1.500 meter kubik kayu dalam bentuk gelondongan dan balok hasil sitaan Dinas Kehutanan Provinsi Jambi sebulan lalu, di kawasan hutan yang dikelola  Restorasi Ekosistem Konservasi Indonesia (REKI), kini raib. "Jumlah petugas yang melakukan pengamanan terbatas," kata Kepala Seksi Penyelidikan dan Pengamanan Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Jambi A. Bestari kepada Tempo kemarin.

Berdasarkan investigasi Tempo selama dua hari pada pekan lalu, para pelaku pencurian yang juga pembalak liar itu bisa dengan leluasa mengambil kayu yang sebagian besar jenis Meranti dengan diameter 30-100 sentimeter dan panjang hingga 6-8 meter. Kayu kemudian dibawa dari kawasan Sungai Jerat menuju Sungai Lalan di Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Di sepanjang Sungai Lalan, dari Desa Lahat ke hulu menuju Desa Bayatulu, terdapat ribuan batang curian yang sudah berbentuk rakit dan siap ditampung para cukong. Setidaknya, sebanyak 35 unit sawmill liar beroperasi di sepanjang tepian sungai untuk mengolah kayu. "Kayu jenis Meranti, Merbau, Punak, dan lainnya yang diambil dari kawasan hutan di perbatasan Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Selatan itu diolah lalu dibawa ke Jakarta," ujar Rustam, 42 tahun, salah seorang warga Desa Bayung, Kecamatan Bayung Lincir. Yang dikatakan Rustam benar. Hanya berselang satu jam, sedikitnya, enam truk interkuler bernomor polisi Jakarta mengangkut kayu-kayu tersebut.. Kepala Kepolisian Resor Musi Banyuasin Ajun Komisaris Besar Toto Wibowo menjelaskan pihaknya telah berkali-kali melakukan operasi gabungan bersama Dinas Kehutanan dan Tentara Nasional Indonesia untuk menghalau aktivitas para pembalak liar. Akses jalan menuju sungai tempat penyimpanan kayu pun ditutup. "Kami akan kembali melakukan operasi jika benar masih ada pencurian ataupun pembalakan liar," ujarnya kepada Tempo.

Chief Technical Adviser REKI Kim Worm Sorensen mengatakan upaya mewujudkan Hutan Harapan melalui restorasi satu-satunya di dunia itu tidak akan ada artinya jika perambahan dan pembalakan liar yang telah berlangsung bertahun-tahun tak diatasi. "Akibat pembalakan liar, ratusan ribu hektare hutan beserta ratusan jenis flora dan fauna akan tinggal kenangan," katanya.

Supported by: