"HRF has established a steady alternative income sources for the indigenous and local people." - Harapan RainForest

700 Hektare Hutan (Harapan) Hilang

Tanggal Posting: 2012-09-01 18:02:24

Tribun Jambi - Rabu, 25 April 2012 09:30 WIB

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Sejak tiga bulan terakhir ini, kawasan hutan restorasi yang dikelola Restorasi Ekosistem Konservasi Indonesia (REKI), seluas 700 hektare digerogoti perambah hutan.

Rata-rata setiap bulannya, seluas 232 hektare luas hutan di kawasan hutan restorasi itu hilang. Saat ini diperkirakan terjadi aktivitas pembukaan lahan yang ditaksir sudah mendekati ke angka 16.669 hektare, atau seluas 16,9 % dari total areal konsesi REKI.

Aktivitas pembukaan lahan terus berlangsung, bahkan cenderung sudah tidak peduli, dan tidak takut dengan petugas pengamanan yang melakukan kegiatan di lapangan.

Informasi ini diungkapkan oleh Chief Technical Adviser  REKI, Kim Worm Sorensen, Minggu (23/4) kepada Tribun. Worm yang didampingi Kabid Penanaman  REKI, Urip Wiharjo mengatakan, laju pembukaan hutan akibat dari perambahan dalam tiga bulan terakhir seluas lebih kurang 700 hektare, atau rata-rata 232 hektare per bulan.

Dalam melakukan aktivitasnya, sikap menantang dan melawan selalu ditunjukkan kelompok perambah. Belum lagi kegiatan penebangan liar yang terjadi dan ditemukan.

Berdasarkan penelusuran Tribun, Jumat dan Sabtu (21-22/4), para perambah membuka perkebunan di dalam kawasan restorasi. Mayoritas warga di sana menanami sawit, karet dan cokelat. Tak hanya perkebunan, mereka juga membangun kompleks perumahan dan sarana ibadah. Bahkan di sebagian lokasi, perambah sudah memasang antena parabola dengan sumber energi diesel.

"Kerugian akibat aktivitas perambahan seluas 16.669 hektare diperkirakan mencapai 1.968.609 meter kubik untuk tingkat pohon saja. Jika dihitung secara keseluruhan dari tingkat semai sampai pohon mencapai 1.970.542 m3," kata Urip.

Kerugian tersebut belum dihitung atas kehilangan unsur hara yang terbakar dan hanyut oleh aliran air, matinya mikroorganisme penting tanah, hilangnya daya simpan air akibat tidak adanya pohon yang menahan air tanah. "Kerugian   kerugian lain tersebut selama ini masih terabaikan dari hilangnya fungsi dan tutupan hutan," katanya.

Kayu yang dirambah dari kawasan hutan restorasi, dibawa memanfaatkan alur Sungai Jerat Kabupaten Batanghari, hingga memasuki perairan Sungai Lalan di Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan.

Hingga Minggu (23/4), kayu sitaan Dinas Kehutanan Kabupaten Batanghari yang tersisa sekitar 200-an meter kubik, baik berbentuk kayu gelondongan maupun kayu olahan. Berdasarkan investigasi Tribun, kayu-kayu tersebut ditemukan di sepanjang sungai Jerat yang melintasi kawasan hutan.

Menurut Febrian, seorang petugas pengamanan  REKI, jika tidak ada tindakan cepat dari pemerintah, dikhawatirkan kayu-kayu tersebut akan hanyut ketika debit air sungai naik. "Inilah yang ditunggu-tunggu perambah. Mereka memanfaatkan air sungai untuk membawa kayu-kayu ini keluar," tutur Febrian.

Sejak kayu tersebut ditemukan dua pekan yang lalu, posisi kayu sudah bergeser ke hilir sungai sejauh beberapa ratus meter, karena terseret air. Selain itu, juga masih ditemukan kayu gelondongan dan olahan di darat, tak jauh dari sungai.

Berdasar investigasi Tribun, kayu yang berasal dari kawasan restorasi tersebut, akan diolah di sawmil yang tersebar di sepanjang bantaran Sungai Lalan. Sedikitnya 35 sawmil beroperasi di kawasan tersebut.

Dari keterangan warga Bayung, Rustam (42), praktik jual beli kayu di daerah setempat sudah berlangsung lama. Ia mengakui kayu berasal dari hutan yang berada di hulu sungai. "Kayu itu dari hutan sano, sekitar tigo kilo meter dari Bayat Ulu," kata Rustam,  Jumat (21/4). Telunjuknya mengarah ke hulu sungai.

Katanya, selain masyarakat, perusahaan besar juga berperan di bisnis kayu tersebut. "Kalau mau, temui Soleh tadi. Lewat dio, biso ketemu dengan Juned, dio tu orang WKS yang ngurus sawmil disiko," kata Rustam. 

Humas PT WKS, Ediyanto secara tegas membantah informasi tersebut. Dikonfirmasi Tribun via ponsel, Selasa (24/4), Ediyanto mengatakan, pihaknya tidak pernah memiliki sawmil.

"Kami bukan perusahaan plywood, jadi tidak pernah memiliki sawmill. Informasi itu tidak benar. Saya tegaskan, pada prinsipnya, kami tidak memiliki sawmil," kata Edi.

Menurut Edi, kemungkinan yang dimaksud warga adalah aktivitas PT Rimba Hutani Mas (RHM), karena perusahaan milik Sinar Mas tersebut memiliki kawasan di daerah tersebut. "Sebaiknya konfirmasi langsung ke pihak RHM. Nanti saya kirimkan nomornya, untuk lebih jelasnya," tukasnya.

Sayangnya, nomor ponsel milik Imam, Humas PT RHM tidak bisa dihubungi, karena nomor tersebut tidak lagi aktif. (men)

Supported by: